Untruthful

March 01, 2017



Why people are lying?

The big one, the little one, yang disengaja maupun yang keluar secara spontan. Tentu kita tidak bisa men-judge kenapa orang berbohong, its their choice. Pasti setiap orang memiliki alasannya sendiri sendiri mengapa mereka memilih untuk berbohong daripada mengungkapkan kebenaran. Everyone’s different, we’ll never know how their circumstance is.

Choosing, however simple the choices are, is never really that simple. Bukan hanya sekedar menjawab antara kertas atau plastik, teh atau kopi, hitam atau putih. Karena suka atau tidak, choosing is like balancing the idiosyncrasy of ourselves with the mere existence of others. Seperti bersikap pretentious dan toleran pada saat bersamaan. And spitting lie instead of thruth, ada tujuannya tersendiri.

People are lying because they can. Contoh simpelnya seperti ditanya “Sudah makan atau belum?”, kita menjawabnya “Belum” padahal sebaliknya. Or you’re having an appointment with your date and you came like 20 minutes in advance but they came late from the time that you both agreed to. “Kamu udah lama nunggunya? Sori telat”, nggak mungkin kayaknya kita merepet dengan menjawab “Iya nih. Gue udah nunggu lo sejam sampai ditanya-tanya mba waiter tuh, mau pesen apa kaga?”, kebanyakan mungkin jawabannya “Enggak kok, baru 5 menit,” damn, apa gue doang yang kayak gini? Jawab sekenanya aja.

Selain itu ada orang yang berbohong karena ingin dilihat lebih, to win admiration, sok pamer padahal nggak punya, sok bisa padahal nggak mampu, ngakunya punya pacar tapi nyatanya yang chat aja nggak ada, hahaha. Lying about something untrue is an obvious instance. It is common in children, some adolescents, and even adults. Sesuatu akan punya value kalau tangible dan exucatable. Buat apa berkoar kau ini dan itu sedangkan value nya tidak ada? Apa namanya? Sepik doang.

The ugliest truth about lie is to avoid reality. Since truthful is too painful too face, sometimes. Bukankah kebenaran tidak selamanya bersalut gula? To protect yourself, apapun alasannya, even when you have not broken any rule is still another motive. Self-protection lie. Kadang lo nggak mau dianggap menyedihkan, dianggap lemah, dianggap needy, whiny, cengeng, nggak mau terlihat sad, rage, worry, doubt, etc., so you chose to tell lie. Maintaining your privacy and emotion.

Saat kita mengungkapkan kebohongan sebenarnya kita sedang mengungkapkan dua kebohongan. A lie that we tell to others and a lie that we tell to ourself. Perlu dipertanyakan, apakah kebohongan yang kita ucapkan giving harm for other atau justru menyayat diri sendiri dan menolak kenyataan? Kita sebagai manusia terkadang sadar Tuhan telah menjatuhkan realita tepat di hadapan, tapi kita si manusia-manusia egois yang hanya ingin melihat dan mendengar apa yang ingin kita lihat dan dengar saja justru menolak menerima kenyataan, membohongi diri sendiri. “This is isn’t happening”.



Seperti zat nikotin dalam rokok, berbohong memiliki cara magisnya tersendiri untuk mendapatkan perhatian dan memproteksi diri, mereka sama-sama adiktif. Of course some have tried to quit smoke but they returned because smoking is such a strong addiction. Sama seperi menciptakan dan mengungkapkan kebohongan demi kebohongan. Its common as a habit that is very difficult to break.


Berbohong mungkin juga punya kemiripan dengan makeup untuk kecantikan, seperti halnya rokok sebagai adiksi. Its just like putting on makeup to hide their naked face, people use lie to hide the truth. More and more lie as their makeup gets thicker.

Sejak kapan manusia berfikir keluar rumah tanpa memakai riasan sebelumnya is embarassing? Dan sejak kapan pula we bacame ashamed of the truth?

True, truth is pathetic, sad and pitiful.

Maka silakan berbohong, itu pilihan. Dosa tetap ditanggung sendiri-sendiri. Karena kalau ditanggung pemerintah itu namanya BPJS. 

Gue sendiri tipe pembohong seperti apa? The one who tell white lies, stupid lies, strange lies or straight bullshits? 

Have fun proving y'all. 

You Might Also Like

0 comment